Pasar Aceh Masjid Raya Baiturrahman Terminal Betoh
Tampilkan postingan dengan label Wisata Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Sejarah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 Agustus 2012

Masjid Agung Baiturahman Banda Aceh, Keagungan Arsitektur Islami

Masjid Raya Baiturahman yang terletak di pusat kota Banda Aceh yakni di Pasar Aceh merupakan mesjid kebanggan masyarakat Aceh anda bisa mencapainya dengan mobil aceh.
Sejarah mencatat pada jaman dulu ditempat ini berdiri sebuah Mesjid Kerajaan Aceh. Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873 Mesjid ini dibakar, namun untuk meredam kemarahan rakyat Aceh pada tahun 1875.
 Belanda membangun kembali sebuah Mesjid sebagai penggantinya yang berdiri megah saat ini. Mesjid ini berkubah tunggal dan dibangun pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959 – 1968). Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan masjid tersebut.
Masjid Agung Baiturrahman terletak di pusat kota Banda Aceh. Ditandai oleh menara setinggi 35 m, 7 kubah besar dan 7 menara masjid, Baiturrahman kemungkinan menjadi contoh bagi masjid-masjid lain di Indonesia dan semenanjung Malaysia; menggantikan masjid dengan  gaya atap berlapis-lapis.
Berjalan-jalan di sekitar masjid, waktu yang paling baik untuk berkunjung ke masjid ini adalah pada saat sholat jum’at dimana seluruh bagian dan pelataran masjid dipenuhi oleh orang yang sedang melangsungkan sholat Jum’at.
Dibelakang masjid terdapat pasar Aceh yang menjual barang-barang menarik dan makanan ringan.  
[ Read More ]

Museum Kenangan Tsunami Banda Aceh

Desain Museum Tsunami dari atas

 Museum Tsunami Aceh adalah sebuah Museum untuk mengenang kembali pristiwa tsunami yang maha dahsyat yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004 yang menelan korban lebih kurang 240,000 0rang.
Museum Tsunami Aceh
Gedung Museum Tsunami Aceh dibangun atas prakarsa beberapa lembaga yang sekaligus merangkap panitia. Di antaranya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias sebagai penyandang anggaran bangunan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) sebagai penyandang anggaran perencanaan, studi isi dan penyediaan koleksi museum dan pedoman pengelolaan museum), Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)sebagai penyedia lahan dan pengelola museum, Pemerintah Kotamadya Banda Aceh sebagai penyedia sarana dan prasarana lingkungan museum dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)cabang NAD yang membantu penyelenggaraan sayembara prarencana museum. Museum ini dibangun dengan 3 alasan: 1. untuk mengenang korban bencana Tsunami 2. Sebagai pusat pendidikan bagi generasi muda tentang keselamatan 3. Sebagai pusat evakuasi jika bencana tsunami datang lagi.
Museum ini terdiri dari 3 lantai dan 1 lantai dasar. Uniknya, lantai 1 merupakan area terbuka yang bisa dilihat dari luar, buat duduk santai. Letaknya juga sangat dekat dengan inti kota, yakni di Jalan Iskandar Muda Banda Aceh.
Gedung Museum Museum Tsunami Aceh yang terletak di Kota Banda Aceh,sejak diresmikan pada 23 Februari 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih belum optimal di fungsikan, mengingat masih terdapat beberapa ruang yang belum terisi. Museum ini masih dalam tahap perampungan fasilitas seperti ruang lukisan bencana, diorama, pustaka, ruang 4 dimensi, dan cafe. Akan tetapi, rencananya pembukaan Museum Tsunami ini akan dilaksanakan bertepatan dengan event Aceh Fair 2011 yang akan digelar di lapangan Blang Padang pada 8 Mei 2011 nanti.
Fungsi Museum Tsunami Aceh ini adalah : 1. Sebagai objek sejarah, dimana museum tsunami akan menjadi pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami. 2. Sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana tsunami. 3. Sebagai warisan kepada generasi mendatang di Aceh dalam bentuk pesan bahwa di daerahnya pernah terjadi tsunami. 4. Untuk mengingatkan bahaya bencana gempa bumi dan tsunami yang mengancam wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia terletak di “Cincin Api” Pasifik, sabuk gunung berapi, dan jalur yang mengelilingi Basin Pasifik. Wilayah cincin api merupakan daerah yang sering diterjang gempa bumi yang dapat memicu tsunami.
Temukan lorong sempit yang gelap dimana di sisi kiri dan kanannya ada air bergemuruh, kadang memercik pelan, kadang bergemuruh kencang. Sesaat suara-suara tersebut akan mengingatkan Anda pada kejadian tsunami pada 26 Januari 2004 di Banda Aceh dan sekitarnya.
Museum dibuka pada hari Senin-Kamis dan Sabtu-Minggu pukul 9.00-12.00 dan 14.00-16.30. Sedangkan hari Jumat museum tidak dibuka. Untuk masuk museum Anda tidak perlu membayar tiket dan tidak dikutip biaya apapun kecuali untuk menyaksikan tayangan 4D.

Museum tsunami tak hanya di desain sebagai tempat pembelajaran sekaligus menyimpan sejarah tsunami Aceh. Bangunan yang di desain dengan perpaduan konsep bukit menyelamatkan diri, analogi amuk tsunami, tari saman, cahaya Allah serta taman terbuka berkonsep masyarakat urban ini juga bisa digunakan sebagai tempat menyelamatkan diri saat tsunami, karena atapnya merupakan ruang terbuka yang luas memang di rancang khusus.

Lantai terakhir atau paling atas berisi media-media pembelajaran (edukasi) berupa perpustakaan, ruang alat peraga, ruang 4D (empat dimensi), dan souvenir shop. Beberapa alat peraga yang ditampilkan antara lain, rancangan bangunan yang tahan gempa, model diagram patahan bumi. Bila ingin merasakan gempa dengan berbagai tingkat kekuatan, silahkan mencoba di bangunan simulasi gempa ataushaking table. Tingkatan kekuatan yang dapat dirasakan dari vertical level 3-8 dan horizontal 3-8. Fasilitas pendidikan lainnya yang disajikan yaitu Bumoepedia dan beberapa panel yang berisi pengetahuan tentang bumi dan gempa. Pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan kamera Hp maupun Kamera Digital dan lainnya selama berada di dalam ruangan ini.Yang paling penting, ibu hamil dan bagi pengunjung yang menderita penyakit jantung dilarang melihat film 4D ini. Durasi film ini adalah 16,38 menit dengan kapasitas tempat duduk 24 kursi.

Jadwal pemutaran film 4D:
Senin – Kamis : Termin 1 jam 10, termin 2 jam 11.
                         Termin 3 jam istirahat tidak dibuka.
                         Termin 4 jam 14.30, termin 5 jam 15.30.
Jumat               : Libur
Sabtu dan Minggu : Termin 1 jam 10, termin 2 jam 11.
                              Termin 3 jam 11.30, termin 4 jam 14.30.
                              Termin 5 jam 15.30 dan termin 6 jam 16.00.

Bagi para pengunjung yang membawa kendaraan pribadi, disediakan tempat parkir yang terletak di bagian depan dan belakang gedung. Bagi kendaraan roda empat seperti mobil pribadi dan bus wisata dapat parkir di bagian belakang gedung.

*sumber foto:
*referensi:
[ Read More ]
Sabtu, 24 Desember 2011

Sejarah Tari Seudati

Kata seudati berasal dari bahasa Arab syahadati atau syahadatain, yang berarti kesaksian atau pengakuan. Dalam bahasa Melayu dialek Aceh, syahadati diubah menjadi seudati. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa kata seudati berasal dari kata seurasi yang berarti harmonis atau kompak. Selanjutnya, kata seudati dijadikan salah satu istilah tarian yang dikenal dengan tarian seudati. Tarian ini cukup berkembang di Aceh Utara, Pidie dan Aceh Timur. Di daerah yang disebutkan terakhir tarian seudati dijadikan sebagai salah satu tarian tradisional.
Pada mulanya tarian seudati diketahui sebagai tarian pesisir yang disebut ratoh atau ratoih, yang artinya menceritakan, diperagakan untuk mengawali permainan sabung ayam, atau diperagakan untuk bersuka ria ketika musim panen tiba pada malam bulan purnama. Dalam ratoh, dapat diceritakan berbagai hal, dari kisah sedih, gembira, nasehat, sampai pada kisah-kisah yang membangkitkan semangat. Semua kisah tersebut disampaikan dengan menggunakan bahasa Melayu dialek Aceh. Dengan demikian, jelaslah bahwa pada masa-masa awal, ratoh belum bernafaskan Islam karena masih kental menggunakan budaya tempatan. Namun, ketika ajaran Islam masuk ke daerah Aceh, terjadilah suatu proses akulturasi di berbagai aspek: sosial, budaya, ekonomi dan politik. Pada aspek budaya misalnya, yang mengalami proses akulturasi tersebut adalah ratoh, yang akhirnya berubah nama menjadi tarian seudati. Dari segi namanya saja, tarian ini tampak dipengaruhi oleh nilai-nilai keislaman, yaitu kata seudati yang diduga kuat berasal dari bahasa arab syahadati seperti dijelaskan sebelumnya. Selain itu, syair-syair lagu pun dipresentasikan dalam bahasa Arab dan bahasa daerah dengan memuat pesan-pesan dakwah, sehingga pada akhirnya tarian ini dijadikan sebagai media dakwah untuk mengembangkan ajaran Islam. Tarian ini masih ada hingga sekarang, tetapi mengalami penambahan fungsi, yaitu sebagai media untuk menyampaikan informasi tentang perkembangan pemerintahan serta sebagai media hiburan. Dengan demikian, di masa-masa awal perkembangannya, tarian seudati berfungsi sebagai media dakwah. Namun, dalam konteks kekinian, selain berfungsi sebagai hiburan, tarian ini juga menyimbolkan kekayaan budaya Aceh sekaligus sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan kepada rakyat.
Seudati ditarikan oleh delapan orang laki-laki sebagai penari utama, terdiri dari satu orang pemimpin yang disebut syeikh, satu orang pembantu syeikh, dua orang pembantu di sebelah kiri yang disebut apeetwie, satu orang pembantu di belakang yang disebut apeet bak, dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu, ada pula dua orang penyanyi sebagai pengiring tari yang disebut aneuk syahi.
Jenis tarian ini tidak menggunakan alat musik, tetapi hanya membawakan beberapa gerakan, seperti tepukan tangan ke dada dan pinggul, hentakan kaki ke tanah dan petikan jari. Gerakan tersebut mengikuti irama dan tempo lagu yang dinyanyikan. Bebarapa gerakan tersebut cukup dinamis dan lincah dengan penuh semangat. Namun, ada beberapa gerakan yang tampak kaku, tetapi sebenarnya memperlihatkan keperkasaan dan kegagahan si penarinya. Selain itu, tepukan tangan ke dada dan perut mengesankan kesombongan sekaligus kesatria.
Busana tarian seudati terdiri dari celana panjang dan kaos oblong lengan panjang yang ketat, keduanya berwarna putih; kain songket yang dililitkan sebatas paha dan pinggang; rencong yang disisipkan di pinggang; tangkulok (ikat kepala) yang berwarna merah yang diikatkan di kepala; dan sapu tangan yang berwarna. Busana seragam ini hanya untuk pemain utamanya, sementara aneuk syahi tidak harus berbusana seragam.
Bagian-bagian terpenting dalam tarian seudati terdiri dari likok (gaya; tarian), saman (melodi), irama kelincahan, serta kisah yang menceritakan tentang kisah kepahlawanan, sejarah dan tema-tema agama.
Pada umumnya, tarian ini diperagakan di atas pentas dan dibagi menjadi beberapa babak, antara lain:
Babak pertama, diawali dengan saleum (salam) perkenalan yang ucapkan oleh aneuk syahi saja, yaitu:
Assalamualaikum
Lon tamong lam seung, Lon jak bri saleum keu bang syekh teuku....  Fungsi aneuk syahi untuk mengiringi seluruh rangkaian tari.
Salam pertama ini dibalas oleh Syeikh dengan langgam (nada) yang berbeda:
Kru seumangat lon tamong lam seung, lon jak bri saleum ke jamee teuku....
Syair di atas diulangi oleh kedua apeetwie dan apeet bak. Pada babak perkenalan ini, delapan penari hanya melenggokkan tubuhnya dalam gerakan gemulai, tepuk dada serta jentikan delapan jari yang mengikuti gerak irama lagu. Gerakan rancak baru terlihat ketika memasuki babak selanjutnya.
Bila pementasan bersifat perntandingan, maka setelah kelompok pertama ini menyelesaikan babak pertama, akan dilanjutkan oleh kelompok kedua dengan teknik yang berbeda pula. Biasanya, kelompok pertama akan turun dari pentas.
Babak kedua, dimulai dengan bak saman, yaitu seluruh penari utama berdiri dengan membuat lingkaran di tengah-tengah pentas guna mencocokkan suara dan menentukan likok apa saja yang akan dimainkan. Syeikh berada di tengah-tengah lingkaran tersebut. Bentuk lingkaran ini menyimbolkan bahwa masyarakat Aceh selalu bermuepakat (bermusyawarah) dalam mengambil segala keputusan. Muepakat itu, jika dikaitkan dengan konteks tarian ini, adalah bermusyawarah untuk menentukan saman atau likok yang akan dimainkan. Di dalam likok dipertunjukkan keseragaman gerak, kelincahan bermain dan ketangkasan yang sesuai dengan lantunan lagu yang dinyanyikan aneuk syahi. Lantunan likok tersebut diawali dengan:
Iiiiii la lah alah ya ilalah.... (secara lambat dan cepat)
Seluruh penari utama akan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan secara cepat atau lambat tergantung dengan lantunan yang dinyanyikan oleh aneuk syahi tersebut. Fase lain adalah fase saman. Dalam fase ini beragam syair dan pantun saling disampaikan dan terdengar bersahutan antara aneuk syahi dan syeikh yang diikuti oleh semua penari. Ketika syeikh melontarkan ucapan: walahuet seuneut apet ee kataheee, hai syam, maka anek syahi akan menimpali dengan jawaban: lom ka dicong bak iboih, anuek puyeh ngon cicem subang.
Rerences:
Image Source:
[ Read More ]
Senin, 22 Agustus 2011

Dua bangunan bersejarah di Banda Aceh


Masjid Baiturrahim ini merupakan satu-satunya bangunan dipinggir Pantai Ulee Lheue yang berdiri kokoh pada saat Tsunami menerjang Kota Banda Aceh, sementara bangunan lain yang berada di sekitarnya luluh lantak di hantam Gelombang Tsunami pada hari minggu tanggal 24 Desember 2004.
Masjid Baiturrahim
  
Pesawat Seulawah yang dikenal RI-1 dan RI-2 merupakan bukti nyata dukungan yang diberikan masyarakat Aceh dalam proses perjalanan Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya, Pesawat Seulawah yang menjadi cikal bakal Maskapai Garuda Indonesia Airways disumbangkan melalui pengumpulan harta pribadi masyarakat dan saudagar aceh sehingga Presiden Soekarno menyebut "Daerah Aceh adalah Daerah Modal bagi Republik Indonesia, dan melalui perjuangan rakyat aceh seluruh Wilayah Republik Indonesia dapat direbut kembali". Pesawat Seulawah dibeli dengan harga US$120.000 dengan kurs pada saat itu atau kira-kira 25 Kg emas dan untuk mengenang jasa masyarakat aceh tersebut maka di buat replika pesawat seulawah yang berada di Lapangan Blang Padang Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh.
Replika Pesawat RI pertama


*referensi:
*sumber foto:
[ Read More ]
Senin, 15 Agustus 2011

Daya Tarik PLTD Apung


PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung
Tujuh tahun pasca tsunami hebat, Pemerintah Provinsi Aceh terus berbenah di segala sektor. Tak terkecuali sektor pariwisata. Kini, pemerintah tengah giat mempromosikan pariwisata Aceh dalam program Visit Aceh 2011 .
Salah satu objek wisata di Tanah Rencong itu yakni Pembangkit Listrik Tenaga Diesel  (PLTD) Apung di Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh. Objek wisata itu berupa kapal besar di tengah kota yang memperlihatkan betapa dasyatnya terjangan air laut pada 24 Desember 2004.
Kapal dengan  panjang 63 meter dan berat 2.600 ton itu terhempas air laut hingga 4 kilometer dari lokasi awal di Pelabuhan Ulee Lheu. Kapal yang awalnya menghasilkan listrik 10,5 megawatt itu menghancurkan bangunan yang dilewati lalu berhenti diatas satu unit rumah dan pemakaman.
Saat ini PLTD Apung menjadi saksi atas besarnya bencana yang menelan korban jiwa lebih dari 150 ribu orang di Aceh. Sekarang benda mirip kapal laut yang didatangkan dari Kalimantan Barat ini duduk bisu di Gampong Punge Blang Cut Kota Banda Aceh. Meskipun beberapa peralatan di dalamnya mengalami kerusakan, namun sampai saat ini beberapa elemen masih bisa dipakai sebagai pembangkit listrik untuk kota Banda Aceh.
PLTD Apung terletak tidak jauh dari pusat kota Banda Aceh. Bahkan bagi anda yang suka jalan kaki, tempat ini bisa ditempuh dengan 45 menit berjalan ke arah Barat Masjid Raya Baiturrahaman. Atau anda bisa naik becak beberapa menit saja. Pilihan paling nyaman adalah naik taksi. Mungkin hanya butuh waktu 5 atau 10 menit anda sudah berada di depan PLTD Apung.
Kisah PLTD Apung yang beredar dalam masyarakat di sana bukan hanya mengenai sebuah mesin Listrik yang dibawa air. Namun banyak keanehan yang terjadi baik pada saat tsunami maupun sesudahnya yang dikaitkan dengan PLTD Apung. Pada masa tsunami misalnya, PLTD Apung menyelamatkan ratusan manusia yang bergantungan dan naik ke sana. Beberapa orang yang terseret air dan melintasi PLTD Apung terselamtakan setelah naik kesana. Ada cerita yang mengatakan mereka dilemparkan oleh seseorang yang tangannya besar pada saat timbul-tenggelam dalam air tsunami. Tangan besar itu mengenggam dirinya dan melemparkannya ke PLTD Apung hingga ia bisa selamat. Kisah ini banyak tersebar di kalangan masyarakat di sana.
Kisah lain berkitan dengan sifat mistik PLTD Apung pada waktu senja. Konon katanya, (saya belum pernah buktikan), banyak orang tersesat berjalan di sekitar PLTD Apung saat maghrib atau sedang azan maghrib. Meskipun jalan menuju ke sana sangat dekat dengan jalan raya, namun banyak orang yang tidak tahu jalan kembali, bahkan tersesat sampai ke sebuah rumah bekas tsunami yang tidak ada penghuninya lagi. Kejadian ini dialami oleh banyak orang dan menjadi cerita yang populer menyangkut PLTD Apung di Banda Aceh.
PLTD Apung di waktu senja
Pengunjung dapat melihat deretan Bukit Barisan, deretan rumah yang baru dibangun, serta laut dikejauhan. Kita juga bisa melihat kerusakan pagar kapal setelah menghantam daratan. Saat ini, pengunjung belum diperbolehkan masuk ke dalam ruangan-ruangan di dalam kapal.
           Jadi, PLTD Apung yang ada di Banda Aceh saat ini menawarkan daya tarik tersendiri bagi pengunjung dari berbagai daerah dan negara. Sungguh rasanya kurung lengkap kalau ke Banda Aceh tapi tidak sampi ke PLTD Apung. Sebuah saksi sejarah kebesaran Tuhan dalam mengelola alam ciptaan-Nya.
*sumber foto:
*referensi:

[ Read More ]
Minggu, 14 Agustus 2011

Kapal Apung Lampulo


Pascabencana gempa dan tsunami yang memorakporandakan daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 26 Desember 2004 ternyata muncul sejumlah objek wisata baru. Setidaknya, itu dirasakan masyarakat Kota Banda Aceh yang tinggal di sekitar Lampulo, dekat pelabuhan perikanan Lampulo, atau di Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru. Di samping puing-puing bekas bangunan rumah dan kantor yang hancur akibat terjangan arus tsunami-yang hingga sekarang belum dibangun kembali oleh pemiliknya-tampak objek wisata kapal terapung. Kapal itu sebelum terjadinya bencana tsunami berada di pantai Aceh, 4 km dari lokasi Punge Blang Cut. Menurut Ayub, pejabat dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi NAD, kapal itu milik PLN dan kesehariannya difungsikan sebagai PLTD (pusat listrik tenaga diesel). Dari pelayanan kapal itu, ratusan ribu rumah rakyat Aceh bisa diterangi lampu listrik.
Kapal Lampulo
Setiap liburan panjang, misalnya, selain wisatawan dari berbagai kota datang melihat kapal tersebut, wisatawan mencanegara asal Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand ramai-ramai menaiki badan kapal apung itu hingga ke lantai paling tinggi. Wisatawan bisa melihat suasana Kota Banda Aceh dari ketinggian kapal tersebut.
Untuk memudahkan wisatawan menaiki kapal berlantai empat itu, pemerintah setempat membuatkan tangga yang diletakkan pada salah satu dinding kapal hingga ke permukaan tanah yang datar. "Sampai sejauh ini, meski wisatawan yang datang jumlahnya relatif banyak, pemda belum memikirkan pemberlakuan karcis menaiki kapal itu. Pada suatu saat nanti, mungkin itu akan diberlakukan," tutur seorang pemuda Punge Blang Cut.
Tak berapa jauh dari lokasi wisata kapal terapung yang terlempar itu, masyarakat juga bisa menengok objek wisata lainnya, yaitu sebuah kapal nelayan yang kandas di atap rumah penduduk. Letaknya di Lampulo, tak berapa jauh dari pelabuhan perikanan rakyat Aceh, Lampulo. Pemerintah Kota Aceh juga akan membebaskan lahan tersebut kemudian menetapkannya menjadi bagian dari museum tsunami Aceh. Kapal yang kandas di atas rumah penduduk itu panjangnya mencapai sekitar 25 meter. Menurut beberapa nelayan Lampulo, kapal itu bertonase sekitar 65 ton. "Jadi, bisa dibayangkan, betapa dahsyatnya gelombang tsunami empat tahun lalu. Ketinggian airnya yang sampai ke daratan mencapai 5 hingga 10 meter. Pohon kelapa saja bisa tercerabut hingga ke akar-akarnya lalu tumbang menimpa rakyat yang kesusahan mencari jalan selamat," ujar Said Akram, pelukis kaligrafi kenamaan Aceh yang lolos dari maut gelombang tsunami. Tempat ini tetap dipertahankan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh untuk mengenang Musibah Tsunami yang melanda Kota Banda Aceh. Sebuah kapal yang terbawa Gelombang Tsunami dan terdampar di perumahan penduduk di kawasan Gampong Lampulo Kecamatan Kuta Alam. 

*sumber foto:
*referensi:

[ Read More ]

Lonceng Raksasa Cakradonya


 Lonceng Cakra Donya merupakan benda bersejarah yang kini merupakan salah satu koleksi Museum Aceh. Menurut sejarahnya lonceng ini diberikan oleh kerajaan China melalui Laksamana Cheng Ho yang merupakan pelayar tangguh, sebagai ikatan persahabatan antara kerajaan China dengan Kerajaan Aceh.
Lonceng Raksasa Cakradonya
Cakra Donya adalah lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina 1409 M, dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Cakra berarti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, cakrawala atau matahari. Sedangkan Donya berarti dunia. Pada bagian luar Cakra Donya terdapat hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5). Sedangkan aksara Arab tidak dapat dibaca lagi.
Pada dasarnya Cakra Donya adalah nama sebuah kapal perang Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yaitu Kapal Cakra Donya di mana lonceng ini digantungkan, dalam penyerbuannya terhadap Portugis di Malaka. Pada masa lalu Lonceng dari Kapal Cakra Donya tersebut, digantung dengan rantai jangkar pada pohon kuda-kuda dekat Mesjid Baiturrahnim dalam kompleks kraton untuk dibunyikan apabila penghuni kraton harus berkumpul guna mendengarkan pengumuman Sultan. Akan tetapi, sejak tahun 1915 M Cakra Donya dipindahkan ke Museum Aceh dan ditempatkan dalam kubah tersebut. Rantai Cakra Donya panjangnya 9,63 cm adalah rantai besi yang dahulu pernah dipakai untuk menggantung Lonceng Cakra Donya pada pohon kuda-kuda di depan Mesjid Baiturrahim dalam kompleks Istana Kesultanan Aceh Darussalam sampai tahun 1915.
Lonceng CakraDonya
Lonceng atau genta yang terkenal dan termasyhur (icon kota Banda Aceh) di Aceh ini sekarang diletakkan di Musium Aceh, Banda Aceh. Lonceng yang dibawa oleh Cheng Ho ini adalah pemberian Kaisar Tiongkok, pada abad ke-15 kepada Raja Pasai. Ketika Pasai ditaklukkan oleh Aceh Darussalam pada tahun 1524, lonceng ini dibawa ke Kerajaan Aceh. Pada awalnya lonceng ini ditaruh diatas kapal Sultan Iskandar Muda yang bernama "Cakra Donya" waktu melawan Portugis, maka itu lonceng ini dinamakan Cakra Donya. Kapal Cakra Donya ini bagaikan kapal induk armada Aceh pada waktu itu dan berukuran sangat besar, sehingga Portugis menamakannya "Espanto del Mundo" (Teror Dunia). Kemudian Lonceng yang bertuliskan aksara Tionghoa dan Arab (sudah tak dapat dibaca lagi aksaranya sekarang) ini diletakkan dekat mesjid Raya Baiturrahman yang berada dikompleks Istana Sultan. Namun sejak tahun 1915 lonceng ini dipindahkan ke Musium Aceh dan ditempatkan didalam kubah hingga sekarang (halaman Musium). Lonceng Cakra Donya ini telah menjadi benda sejarah kebanggaan orang Aceh hingga sekarang. Lonceng ini juga juga merupakan bukti dan simbol hubungan bersejarah antara Tiongkok dan Aceh sejak abad ke-15.
Lonceng raksasa Cakra Donya merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang bermutu tinggi yang disimpan di Museum Aceh. Lonceng raksasa Cakra Donya merupakan sebuah bingkisan Maharaja Cina yang diantar oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1414. Di atas Lonceng tersebut tertera aksara Cina "Sing Fang Niat Toeng Juut Kat Yat Tjo".
*sumber foto:
*referensi:

[ Read More ]
Selasa, 17 Mei 2011

Wisata Sejarah di Banda Aceh

Untuk mendukung program Visit Banda Aceh 2011, VBAY11 Connector sebagai penyedia informasi tentang Banda Aceh mulai dari Sejarah hingga Budaya dan Wisata di Banda Aceh. Berikut ini adalah daftar dan summary dari Aceh Tourism (History).

1.      Masjid Raya Baiturahman

Masjid Raya Baiturahman yang terletak di pusat kota Banda Aceh yakni di Pasar Aceh merupakan mesjid kebanggan masyarakat Aceh anda bisa mencapainya dengan mobil aceh.

Sejarah mencatat pada jaman dulu ditempat ini berdiri sebuah Mesjid Kerajaan Aceh. Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873 Mesjid ini dibakar, namun untuk meredam kemarahan rakyat Aceh pada tahun 1875.
 Belanda membangun kembali sebuah Mesjid sebagai penggantinya yang berdiri megah saat ini. Mesjid ini berkubah tunggal dan dibangun pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959 – 1968). Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan masjid tersebut.

2.      Kuburan Massal Korban Tsunami
Tsunami yang melanda Banda Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 memakan banyak korban, baik anak-anak maupun dewasa. Hal ini membuat korban Tsunam di kubur secara Massal. Kuburan massal tersebar di beberapa titik di Banda Aceh dan Aceh Besar: Kuburan Massal Krueng Lamnyong , Kuburan Massal Ule Lheu , Kuburan Massal Blang Bintang , Kuburan Massal Lamkawe , Kuburan Massal Lingke.

3.      Gerbang Peutjoet Kerkoff
Kerkoff berasal dari  bahasa Belanda yang berarti kuburan, sedangkan Peutjoet atau asal kata dari Pocut (putra kesayangan) Sultan Iskandar Muda yang dihukum oleh ayahnya sendiri (Sultan Iskandar Muda) karena melakukan kesalahan fatal dan dimakamkan di tengah-tengan perkuburan ini.
Pada relief dinding gerbang makam tertulis  nama-nama serdadu Belanda yang meninggal dalam pertempuran dengan masyarakat  Aceh (setiap relief ada 30 nama); daerah pertempuran, seperti di Sigli, Moekim,  Tjot Basetoel, Lambari en Teunom, Kandang, Toeanko, Lambesoi, Koewala, Tjot  Rang - Pajaoe, Lepong Ara, Oleh Karang – Dango, dan Samalanga); dan tahun  meninggal para serdadu (1873-1910). Sekitar 2200 tentara Belanda termasuk 4 jenderalnya sejak tahun 1883 hingga 1940an dikuburkan di sini. Di antara para serdadu Belanda tersebut ada  beberapa nama prajurit Marsose yang berasal dari Ambon, Manado dan Jawa. Para prajurit Marsose yang berasal  dari Jawa ditandai dengan identitas IF (inlander fuselier) di belakang  namanya, prajurit dari Ambon dengan tanda AMB, prajurit dari Manado dengan tanda MND, dan serdadu Belanda  dengan tanda EF/ F. Art. Di dalam Kerkoff banyak terdapat pohon bunga jeumpa dan konon katanya, sering tercium bau bunga jeumpa secara misterius.Disini juga sering digunakan sebagai tempat hunting photo para magician Aceh.

4.      Gunongan
Taman Putroe Phang, terletak di wilayah kompleks Istana Sultan Aceh di Banda Aceh. Taman ini dibuat untuk sang Permaisuri Sultan Iskandar Muda bernama Putroe Phang yang berarti Putri Pahang, yang berasal dari Pahang, Malaysia. Di taman tersebut terdapat sebuah bangunan unik, bernama Gunongan, dibuat menyerupai bukit-bukit yang terletak di Pahang, Malaysia. Bangunan tersebut dibuat atas permintaan sang Permaisuri sendiri, yang selalu rindu kampung halamannya, Pahang, yang konon berbukit bukit.

Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai tanda cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun Gunongan untuk mengubati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.

5.      Museum Ali Hasjmi

Merupakan kebanggaan lain bagi kota Banda Aceh. Bapak Ali Hasyimi yang juga merupakan mantan Gubernur Aceh, serta seorang seniman yang memiliki koleksi pribadi yang berharga dan menarik. Kini koleksi beliau dijadikan pajangan yang menarik dimuseum beliau sendiri. Benda-benda tersebut antara lain kitab-kitab karya para ulama besar Aceh tempo dulu, kemik kuno, senjata khas Aceh, cendera mata dari berbagai pelosok dunia, dan masih terdapat koleksi lainnya.

*referensi :      http://www.hinamagazine.com/

*sumber foto :
                        http://acehpedia.org/

[ Read More ]
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
 

Enter your email address:

VBA Connector


Locations of visitors to this page